Selasa, 08 Desember 2009

MEMILIH PENDEKATAN

A. Jenis- Jenis Pendekatan
Secara singkat pendekatan penelitian dapat dibedakan atas beberapa jenis,
tergantung dari sudut pandangnya.
1. Jenis pendekatan menurut teknik samplingnya adalah :
- pendekatan populasi
- pendekatan sample
- pendekatan kasus
2. Jenis pendekatan menurut timbulnya variabel adalah :
- pendekatan non – eksperimen
- pendekatan eksperimen
3. Jenis pendekatan menurut pola-pola atau sifat penelitian non eksperimen, dibedakan atas :
- penelitian kasus ( case-studies)
- penelitian kausal komparatif
- penelitian korelasi
- penelitian histories
- penelitian filosofi
4. Jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan,adalah :
a. One shot model, yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada suatu saat.
b. Longitudinal model, yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara mengikuti perkembangan bagi individu – individu yang sama.
c. Cross – sectional model, yaitu gabungan antara model a dan b, untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekaligus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengalami subjek dari berbagai tingkat umur.
5. Jenis pendekatan menurut desain atau rancangan penelitian, yaitu:
a. rancangan lambang tugas
b. rancangan ulangan
c. rancangan faktorial

B. Penentuan Pendekatan
Faktor – faktor yang mempengaruhi jenis pendekatan antara lain :
1. Tujuan penelitian
2. Waktu dan dana yang tersedia
3. Tersedianya subjek penelitian
4. Minat atau selera peneliti

C. Survey Sebagai Salah Satu Pendekatan
Dikatakan oleh Van Dalen bahwa studi survei merupakan bagian dari studi
deskriptif meliputi :
1. School survey, yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendidikan.
2. Job analysis, yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tugas – tugas umum dan tanggung jawab para karyawan
3. Analisis dokumen, istilah lain adalah analisis isi, analisis aktivitas atau analisis informasi
4. Public opinion surveys, survey ini bertujuan untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu hal misalnya, tentang rehabilitasi suatu bangunan bersejarah, dll.
5. Community survey, survei ini juga disebut “social surveys” atau “field surveys”, karena didalam survei ini peneliti bertujuan mencari informasi tentang aspek kehidupan secara luas dan mendalam.

D. Penelitian Penelusuran, Pendekatan yang Jarang Disentuh
Sebuah pendekatan penelitian yang sangat jarang dikenal apalagi digunakan
adalah penelitian penelusuran atau dalam bahasa inggrisnya tracer study. To trace artinya mengikuti jejak yang tidak lain adalah menelusuri. Dari arti kata menelusuri dapat diketahui bahwa kegiatan yang ada dalam penelitian ini adalah mengikuti jejak seseorang yang sudah pergi atau sesuatu yang sudah lewat waktu.

Read more...

MENENTUKAN VARIABEL

A. Pengertian dan Macam Variabel
F.N. kerlinger menyebut variabel sebagai sebuah konsep seperti halnya laki –
laki dalam konsep jenis kelamin, insaf dalam konsep kesadaran. Sutrisno hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi misalnya, jenis kelamin, berat badan, dsb. Variabel dapat dibedakan atas yang kuantitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuantitatif misalnya luasnya kota, umur, dsb. Contoh variabel kualitatif misalnya, kemakmuran, kepandaian, dsb.lebih jauh variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Variabel diskrit, disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik, karena hanya dapat dikategorikan atas dua kutub yang berlawanan yakni “ya” dan “tidak”.
2. Variabel kontinum, dipisahkan menjadi 3 variabel kecil yaitu :
a. Variabel ordinal, yaitu variabel yang menunjukkan tingkatan – tingkatan. Misalnya panjang, kurang panjang, pendek.
b. Variabel interval, yaitu variabel yang mempunyai jarak, jika dibanding dengan variabel lain, sedangkan jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti.
c. Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan. Variabel ini dalam hubungan antar sesamanya merupakan “sekian kali”.

B. Variabel dan Data
Dari sumber SK menteri P dan K No.0259/U/1977 tanggal 11 Juli 1977
disebutkan bahwa data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi adalh hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan.
- Data dari variabel diskrit disebut data diskrit, berupa frekuensi
- Data dari variabel kontinum disebut data kontinum, berupa tingkatan, angka berjarak atau ukuran.

C. Variabel Sebagai Objek Penelitian
Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau
independent variabel (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel tidak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau dependent variabel (Y).
contoh : apabila seorang peneliti ingin menyelidiki apakah benar bahwa susu menyebabkan badan menjadi gemuk, maka yang menjadi objek penelitiannya adalah susu dan berat badan orang.
Susu merupakan variabel bebas (X) dan berat badan merupakan variabel akibat (Y).

D. Pentingnya Memahami Variabel
Memahami variabel dengan kemampuan menganalisis atau
mengidentifikasikan setiap variabel yang lebih kecil (sub variabel) merupakan syarat mutlak bagi setiap peneliti. Memecah – mecah variabel menjadi kategori – kategori data yang harus dikumpulkan oleh peneliti. Kategori – kategori ini dapat diartikan sebagai indikator variabel. Kategori , indikator, sub variabel ini akan dijadikan pedoman dalam merumuskan hipotesis minor, menyusun instrument, mengumpulkan data dan kelanjutan langkah penelitian yang lain.

E. Memahami Variabel yang Bermakna
Ada 2 hal yang diperhatikan tentang variabel penelitian, yaitu :
1. Sifat variabel
Ditinjau dari sifatnya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi 2,yaitu :
a. Variabel status, adalah variabel yang tidak dapat diubah keberadaannya. Misalnya,jenis kelamin, status social ekonomi, tempat tinggal dsb.
b. Variabel dinamis, adalah variabel yang dapat diubah keberadaannya berupa pengubahan, peningkatan, atau penurunan.contohnya adalah ,kedisiplinan, motivasi kepedulian, pengaturan dsb.
2. Status variabel
Semua variabel mempunyai status penting , namun jika dibandingkan antara dua status dibawah ini, kita dapat menentukan mana yang lebih bermakna dalam penelitian.
a. kebiasaan hidup sehari – hari ……………….motivasi berprestasi
b. motivasi berprestasi…………………………etos kerja
c. etos kerja…………………………………….keberhasilan kerja
variabel yang disebutkan pertama merupakan penyebab untuk variabel kedua. Variabel pertama berstatus sebagai sesuatu yang akan dilihat peranannya terhadap variabel yang disebutkan kedua.

Read more...

Rabu, 02 Desember 2009

Menyibak Mitos Seputar Diet

Banyak minum sebelum makan akan menahan kita untuk menikmati makanan secara berlebihan. Benarkah demikian? Mari sama-sama membuka mata untuk melihat fakta sesungguhnya saat menjalani diet, cara ini membuat kita bisa menikmati makanan kesukaan dengan benar.
Mitos 1 : Kentang dan roti adalah makanan yang menggemukkan badan.
Faktanya : Tidak semua karbohidrat berbahaya, apalagi jika karbohidrat itu berasal dari kentang dan gandum.Karbohidrat dibutuhkan tubuh sebagai bahan bakar otak bekerja.
Mitos 2 : Minum sebelum makan dapat menghilangkan nafsu makan.
Faktanya : Iya dan tidak. Air akan menghadang nafsu makan bila digabung bersama makanan seperti sup. Air pada sup akan memperlambat pencernaan sehingga kita akan merasa kenyang lebih lama. Tapi jika hanya air putih yang banyak Anda minum sebelum makan, tidak akan berpengaruh pada rasa kenyang. Tunggu beberapa saat, Anda akan lapar kembali.
Mitos 3 : Udang kaya akan kolesterol.
Faktanya : Jika dilihat dari satu sisi, benar adanya udang memiliki kolesterol yang tinggi. Sebab dalam 3 ons udang saja sudah berkontribusi 1/3 kebutuhan kolesterol kita. Tapi di sisi lain, udang kaya akan lemak tak jenuh yang menyelamatkan arteri jantung dari plak-plak. Ini diperkuat dari penelitian University of Southern California yang menemukan fakta konsumsi udang setiap minggu dapat menekan risiko serangan jantung 59 persen!
Mitos 4 : Sesekali menikmati burger dan kentang goreng tidak apa-apa.
Faktanya : Sangat tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan “sesekali”. Jika sesekali diartikan setiap malam minggu atau akhir pekan, maka sebenarnya kita telah mengacaukan program diet yang tengah berjalan. Tapi jika sebulan sekali adalah waktu untuk mendefinisikan sesekali, maka masih bisa ditolerir oleh lingkar pinggang, kadar kolesterol dan tekanan darah. Terlelbih ketika Anda menjalankan program hidup sehat dengan makanan berserat tinggi dan rajin berolah raga, maka sekali sebulan makan burger dan kentang goreng tidak apa-apa.
Mitos 5 : Secara natural, berat badan perempuan akan naik saat menopause.
Faktanya : Kita bisa dengan mudah menyalahkan hormon (mulai dari timbulnya jerawat sampai PMS), tapi khusus kasus ini penyebabnya adalah menurunnya aktivitas tubuh menjadi penjelasan masuk akal. Sebab beberapa penelitian membuktikan, perempuan usia lanjut yang rajin berolahraga tidak mengalami kenaikan berat badan meskipun mereka telah menopause.
Mitos 6 : Soda berlabel diet lebih baik.
Faktanya : Apapun labelnya, minuman soda tidak pernah baik untuk kesehatan apalagi berat badan. Sebaiknya ganti minuman jenis ini dengan air putih, jus buah, atau teh hijau. Sebab minuman soda berbahaya bagi ginjal dan berisiko memberikan serangan jantung pada kita. Belum lagi asam yang ada di dalamnya dapat menyebabkan karang pada gigi.

Read more...

Sabtu, 24 Oktober 2009

HIKMAH PUASA SEBAGAI PEMBENTUK SOSIAL

Puasa merupakan ibadah yang bersifat privat (pribadi), semata-mata hubungan kita sebagai hamba terhadap Alla SWT. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain, dimana keterlibatan dan pengetahuan orang lain begitu nyata dan jelas. Dalam shalat misalnya, orang bias melihat bagaimana kita shalat. Demikian halnya dengan ibadah haji atau zakat. Hal ini berbeda dengan ibadah puasa. Kalau kita pura-pura berpuasa, mungkin orang lain tidak tahu. Akan tetapi, yakinlah bahwa Tuhan sebenarnya Maha Tahu.

Meskipun puasa bersifat sangat pribadi, tetapi di dalamnya mengandung ajaran-ajaran social yang penting untuk kita transformasikan dalam kehidupan riil di masyarakat. Dalam puasa misalnya, terdapat ritual dan motivasi simbolik yang mengantarkan seseorang menjadi seimbang dalam kesalehan individu yang sifatnya ritualistic dan kesalehan social yang bernuansa sosiologis. Dalam puasa, kita dijanjikan Tuhan dengan berbagai macam pahala yang berlipat ganda apabila kita melakukan ritual-ritual tertentu. Hal ini salah satu bentuk untuk meningkatkan kesalehan yang bersifat pribadi. Namun dipihak lain, Allah jura menyuruh kita untuk memberi sedekah, menolong orang yang kekurangan, memberi makan orang yang akan berbuka puasa, dan lain sebagainya.

Hal demikian sesungguhnya merupakan perintah yang bersifat simbolik agar kita lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat sosial. Oleh karena itu, kata iman dalam Alqur’an selalu disandingkan dengan kata ‘amalun shalihun (amal saleh).

Orang yang beribadah biasa-biasa saja tetapi ia aktif dalam berbagai aktifitas sosial, dan memiliki kepedulian yang tinggi dengan situasi yang terjadi disekitarnya, sering kali masih dianggap orang yang tingkat religiusnya rendah. Hal yang lebih naïf lagi, kedua dimensi (kesalehan sosial dan kesalehan ritual) sering kali dianggap tidak memiliki hubungan apa-apa. Karena itu, orang rajin ibadah, yang setiap tahun mengerjakan ibadah haji, namun mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Selama ini yang kita kenal sebagai pahala dan dosa selalu dimaknai secara abstrak, semata-mata urusan kita di akhirat kelak. Pahala yang dimaknai seolah-olah sebagai tabungan kebaikan untuk di akhirat, sebenarnya harus diorientasikan pada pengertian yang bersifat sosiologis. Dalam hukum sosial misalnya, kita harus berjalan melalui jalur sebelah kiri. Kalau kita berjalan disebelah kanan, meskipun secara teologis tidak dosa tetapi secara sosial dia sesungguhya berdosa. Dosanya seperti apa? Bisa terjadi kecelakaan misalnya.

Pahala bisa berarti sesuatu yang mendorong terjadinya keserasian dan keseimbangan sosial. Karena itu, puasa yang didalamnya terdapat larangan untuk tidak makan dan minum di siang hari, juga bisa dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat simbolik. Larangan makan dan minum di siang hari adalah symbol untuk menjauhi ketamakan dan kerakusan. Puasa kemudian menjadi sarana untuk melatih diri untuk tidak rakus dan tamak terhadap apa yang bukan hak kita. Disamping itu, puasa juga mendidik kita untuk lebih peduli dengan apa yang terjadi disekitar kita. Jika kita melakukan puasa Ramadhan ditambah puasa sunah lainnya, rajin melakukan shalat malam, tetapi kita tidak punya kepedulian terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, sesungguhnya ibadah ritual tadi tidak bermakna apa-apa. Karena, dari ibadah ritual itu sesungguhnya diharapkan ada dampak nyata pada perilaku sosial sehari-hari.

Kalau kita memaknai puasa dari perspektif perdamaian, maka jelas sekali keterkaitannya. Di dalam Alqur’an, surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan ‘kutiba alaikum al-shiyam kama kutiba ala al-ladzina min qablikum la’allakum tattaqun’. Kata ‘al-shiyam’ ini makna dasarnya adalah menahan diri, menahan diri dari peperangan, pertikaian, permusuhan. Dari sudut pandang ilmu Fikih, shiyam diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seksual.

Tujuan dari puasa adalah ‘la’allakum tattaqun’, kita diharapkan menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa bukan berarti hanya bertaqwa secara vertical kepada Allah saja, tetapi juga secara horizontal, yaitu menebarkan perdamaian di muka bumi. Puasa atau alat untuk mencapai perdamaian dan ini adalah dasar dari Islam itu sendiri, yang berarti ‘al-salamí atau kedamaian.

Terkadang kita lupa, kita memiliki banyak kepentingan yang kerapkali menjadikan kita tamak, membuat kita ingin menyingkirkan orang lain. Puasa sebenarnya adalah latihan pengendalian diri, latihan jiwa untuk tidak melakukan perbuatan kemaksiatan yang diantaranya adalah konflik itu sendiri. Rasul sudah mengingatkan , kalau kita dipaksa orang lain untuk berselisih pendapat yang menimbulkan tindakan kekerasan, maka katakana : “saya sedang puasa”, artinya jangan ganggu saya, saya sedang menaruh jiwa saya kepada Allah. Itu mengapa kita diajak oleh Rasul untuk menjalankan ibadah puasa, yaitu untuk menebarkan perdamaian di muka bumi.

Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, hanya sekedar lapar dan dahaga. Dalam berpuasa, terkadang ia menghujat orang lain, dan tenggelam dalam perselisihan, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

****

Read more...

MAKALAH DEMOKRASI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).

1.2 Identifikasi Masalah
Dalam pelaksanaanya, banyak sekali penyimpangan terhadap nilai-nilai demokrasi baik itu dalam kehidupan sehari-hari di keluarga maupun masyarakat.
Permasalahn yang muncul diantaranya yaitu:
- Belum tegaknya supermasi hukum.
- Kurangnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan bermasnyarakat, berbangsa dan bernegara.
- Pelanggaran terhadap hak-hak orang lain.
- Tidak adanya kehidupan berpartisipasi dalam kehidupan bersama (musyawarah untuk mencapai mufakat).
Untuk mengeliminasi masalah-masalah yang ada, maka makalah ini akan memaparkan pentingnya budaya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, penulis menyusun makalah ini dengan judul “BUDAYA DEMOKRASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI”.
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Memaparkan masalah-masalah yang timbul yang diakibatkan penyimpangan dari nilai-nilai demokrasi dalam kehidupa sehari-hari.
2. Memaparkan sejumlah sumber hukum yang menjadi landasan demokrasi
3. Memaparkan contoh nyata penerapan budaya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
1.4 Batasan Masalah
Karena banyaknya permasalahan-permasalahan yang timbul, maka makalah ini hanya akan membahas tentang pentingnya budanya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam keluarga maupun masyarakat, berbangsa dan bernegara.
1.5 Sistematika Penulisan
Agar makalah ini dapat dipahami pembaca, maka penulis membuat sistematika penulisan makalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang mengenai pengertian demokrasi, identifikasi masalah yang ditimbulkan oleh pelanggara terhadap nilai-nilai demokrasi, tujuan dibuatnya makalah, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II TEORI BUDAYA DEMOKRASI
Teori Budanya Demokrasi berisikan pengertian demokrasi, landasan-landasan demokrasi, sejarah perkembangan demokrasi dan penerapan budaya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III KESIMPULAN dan SARAN
Kesimpulan dan saran merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan serta saran-saran.
BAB II
TEORI BUDAYA DEMOKRASI
2.1 Pengertian Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
2.1.1 Menurut Internasional Commision of Jurits
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyar dimana kekuasaan tertinggi ditangan rakyat dan di jalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil-wakil yang mereka pilih dibawah sistem pemilihan yang bebas. Jadi, yang di utamakan dalam pemerintahan demokrasi adalah rakyat.
2.1.2 Menurut Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people).
2.1.3 Menurut C.F Strong
Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.
2.2 Landasan-landasan Demokrasi
2.2.1 Pembukaan UUD 1945
1. Alinea pertama
Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
2. Alinea kedua
Mengantarkan rakyat Indonesia kepintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
3. Alinea ketiga
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan kebangsaaan yang bebas.
4. Alinea keempat
Melindungi segenap bangsa.
2.2.2 Batang Tubuh UUD 1945
1. Pasal 1 ayat 2
Kedaulatan adalah ditangan rakyat.
2. Pasal 2
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Pasal 6
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
4. Pasal 24 dan Pasal 25
Peradilan yang merdeka.
5. Pasal 27 ayat 1
Persamaan kedudukan di dalam hukum.
6. Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.
2.2.3 Lain-lain
1. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi
2. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM
2.3 Sejarah dan Perkembangan Demokrasi
Isitilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica) dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.
Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat.
Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.
Penerapan Budaya Demokrasi Dalam Kehidupan Sehari-hari
Di Lingkungan Keluarga
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan keluarga dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Kesediaan untuk menerima kehadiran sanak saudara;
- Menghargai pendapat anggota keluarga lainya;
- Senantiasa musyawarah untuk pembagian kerja;
- Terbuka terhadap suatu masalah yang dihadapi bersama.
Di Lingkungan Masyarakat
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Bersedia mengakui kesalahan yang telah dibuatnya;
- Kesediaan hidup bersama dengan warga masyarakat tanpa diskriminasi;
- Menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengannya;
- Menyelesaikan masalah dengan mengutamakan kompromi;
- Tidak terasa benar atau menang sendiri dalam berbicara dengan warga lain.
Di Lingkungan Sekolah
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan sekolah dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Bersedia bergaul dengan teman sekolah tanpa membeda-bedakan;
- Menerima teman-teman yang berbeda latar belakang budaya, ras dan agama;
- Menghargai pendapat teman meskipun pendapat itu berbeda dengan kita;
- Mengutamakan musyawarah, membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masalah;
- Sikap anti kekerasan.
Di Lingkungan Kehidupan Bernegara
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan kehidupan bernegara dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Besedia menerima kesalahan atau kekalahan secara dewasa dan ikhlas;
- Kesediaan para pemimpin untuk senantiasa mendengar dan menghargai pendapat warganya;
- Memiliki kejujuran dan integritas;
- Memiliki rasa malu dan bertanggung jawab kepada publik;
- Menghargai hak-hak kaum minoritas;
- Menghargai perbedaan yang ada pada rakyat;
- Mengutamakan musyawarah untuk kesepakatan berrsama untuk menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari pengalaman masa lalu bangsa kita, kelihatan bahwa demokrasi belum membudaya. Kita memang telah menganut demokrsai dan bahkan telah di praktekan baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. Akan tetapi, kita belum membudanyakannya.
Membudaya berarti telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Mengatakan “Demokrasi telah menjadi budaya” berarti penghayatan nilai-nilai demokrasi telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging di antara warga negara. Dengan kata lain, demokrasi telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari kehidupanya. Seluruh kehidupanya diwarnai oleh nilai-nilai demokrasi.
Namun, itu belum terjadi. Di media massa kita sering mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Orang-orang kurang menghargai kebabasan orang lain, kurang menghargai perbedaan, supremasi hukum kurang ditegakan, kesamaan kurang di praktekan, partisipasi warga negara atau orang perorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan pilitik belum maksimal, musyawarah kurang dipakai sebagai cara untuk merencanakan suatu program atau mengatasi suatu masalah bersama, dan seterusnya. Bahkan dalam keluarga dan masyarakat kita sendiri, nilai-nilai demokrasi itu kurang di praktekan.
Saran
Mewujudkan budaya demokrasi memang tidak mudah. Perlu ada usaha dari semua warga negara. Yang paling utama, tentu saja, adalah:
1. Adanya niat untuk memahami nilai-nilai demokrasi.
2. Mempraktekanya secara terus menerus, atau membiasakannya.
Memahami nilai-nilai demokrasi memerlukan pemberlajaran, yaitu belajar dari pengalaman negara-negara yang telah mewujudkan budaya demokrasi dengan lebih baik dibandingkan kita. Dalam usaha mempraktekan budaya demokrasi, kita kadang-kadang mengalami kegagalan disana-sini, tetapi itu tidak mengendurkan niat kita untuk terus berusaha memperbaikinya dari hari kehari. Suatu hari nanti, kita berharap bahwa demokrasi telah benar-benar membudaya di tanah air kita, baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
1. “http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi“
2. “http://dondsor.blogster.com/demokrasi_dan_Konstitusi.html“
3. Abdulkarim, Aim, Drs, M.Pd. 2004 “Kewarganegaraan untuk SMP Kelas II Jilid 2”. Bandung: Grafindo Media Pratama.
4. Wijianti, S.Pd. dan Aminah Y., Siti, S.Pd. 2005 “ Kewarganegaraan (Citizenship)”. Jakarta: Piranti Darma Kalokatama.

Read more...

PEMAHAMAN SUATU KASUS KEWIRAUSAHAAN

Jeff Bezos “AMAZON” Menjadi Raksasa Ritel Berkat Affliate Marketing.

Pada Senin, 21 Juni 2004, Amazon berhasil mengukuhkan diri sebagai retailer online nomor satu di dunia. satu hari saja, Amazon berhasil menjual buku Harry Potter & the Order of the Phoenix sebanyak 1,4 juta eksemplar. Selain itu, penggemar Harry Potter telah meningkatkan penjualan Amazon menjadi 37 persen pada kuartal kedua, dengan nilai penjualan 1,1 miliar dolar AS.
Amazon berhasil meraih pangsa pasar besar berkat program affiliate marketing yang ivovatif. Pada dasarnya affiliate marketing adalah menjual barang orang lain dengan membuka afiliasi dengan para pemasar di Internet. Selain didukung hampir sejuta affiliate marketer, Amazon juga bekerja sama dengan retailer lain seperti Target d an Toy R’Us untuk melayani lebih dari 38 juta pengunjung situsnya sebulan.
Sosok di balik Amazon.com Inc adalah Jeffrey P. Bezos. Semula tak ada yang menyangka perusahaan yang didirikannya di ruang garasi pada Juli 1995 bakal meraksasa. Soalnya, yang dilakukan hanyalah menjual buku melalui internet. Bezos menawarkan buku dengan harga murah dan membebaskan dari biaya pengiriman bila pesanan melebihi nilai 25 dolar AS.
Namun, apa yang diraih Amazon dalam 8 tahun terakhir – dengan penjualan mencapai 5 miliar dolar AS setahun – setara dengan apa yang dicapai raksasa toko gudang WalMart selama 20 tahun. Ia tertarik pada penjualan ritel melalui internet pada 1994 ketika masih menjadi penganalisis bisnis di New York. setelah melalukan riset terhadap sukses beberapa perusahaan mail order, Bezos berkesimpulan, buku merupakan produk sempurna untuk dijual via Internet.
Jeff Bezos semakin ekspansif dengan membeli usaha-usaha prospektif seperti drugstore.com yang menjual obat-obatan secara online, Pets.com pemasok hewan peliharaan online, toko buah di Internet HomrGrocer.com, penyedia peralatan rekreasi Gear.com serta sejumlah retailer berbasis jaringan internet.

PEMBAHASAN :
Dalam kasus tersebut, kita tentunya ingat akan ciri-ciri dari kewirausahaan seperti memiliki Perspektif ke Depan dimana dalam hal ini setiap saat mencapai target, sasaran atau impian, maka segeralah membuat impian-impian baru yang dapat memacu serta memberi semangat dan antusiasme kepada kita untuk mencapainya. Apapun impian atau target kita, kita harus ingat kata kuncinya yaitu SMART (Specific, Measurable, Achieveable, Reality-based, Time-frame) yang berarti harus specifik dan jelas, terukur, dpaat dicapai, berdasarkan realitas atau kondisi kita saat ini, dan memiliki jangka waktu tertentu.
Seperti dalam kasus tersebut, yang membuat Amazon.com mempunyai keuntungan yang berlibat-libat yaitu Jeffrey P. Bezos yang pada awalnya tak menyangka perusahaan yang didirikannya di ruang garasi pada Juli 1995 bakal meraksasa seperti itu. karena pada mulanya yang dilakukan hanyalah menjual buku melalui internet saja. Bezos menawarkan buku dengan harga murah dan membebaskan dari biaya pengiriman bila pesanan melebihi nilai 25 dolar AS.
Ciri berikutnya yang terlihat dalam kasus tersebut adalah memiliki sifat inovasi Tinggi, memiliki komitmen terhadap pekerjaan, memiliki tanggung jawab, memiliki keberanian menghadapi resiko serta selalu mencari peluang, karena sebelum terjun keusaha barunya tersebut, Ia melakukan riset terlebih dahulu, apakah usahanya ini dapat berkembang dengan cepat atau tidak. Sebenarnya, walaupun telah melakukankan riset sekalipun, terkadang kenyataanya berbeda setelah usaha tersebut dilaksanakan. Tetapi tentunya riset tersebut menjadi gambaran awal agar resiko yang ditanggung tidak terlalu besar.
Dengan keberhasilan yang didapat, jiwa kepemimpinan beliau terus berfikir untuk mencari peluang baru, yang diwujudkannya dengan membeli usaha-usaha prospektif seperti drugstore.com yang menjual obat-obatan secara online, Pets.com pemasok hewan peliharaan online, toko buah di Internet HomrGrocer.com, penyedia peralatan rekreasi Gear.com serta sejumlah retailer berbasis jaringan internet.

KESIMPULAN :
Dari kasus tersebut tentunya watak, sifat, jiwa dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk perilaku kewirausahaan dapat terlihat dengan ciri-ciri sebagai berikut : percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, berani mengambil resiko, berjiwa pemimpin serta berorientasi ke masa depan. Karena jiwa kewirausahaan tidak hanya dimiliki oleh pengusaha dan berlaku dalam bidang bisnis, tetapi juga dimiliki oleh setiap orang yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif baik secara individual maupun kelompok. Keberhasilan berwirausaha sangat bergantung dari beberapa faktor seperti kemauan, kemampuan, peluang serta kesempatan.
Wirausaha selalu berkomitmen dalam melakukan tugasnya dan tidak setengah-setengah, karena dalam melakukan tugasnya, wirausaha selalu tekun, ulet, dan pantang menyerah serta tindakannya tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang walaupun wirausaha berani mengambil resiko terhadap pekerjaanya tersebut. Dengan adanya hal tersebut akan mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang yang baru agar dapat memperoleh hasil yang diharapkan.

*****

Read more...

Jumat, 11 September 2009

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

1. ANGKET

Yang dimaksud dengan angket, adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angker ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dan sebagainya. Teknik ini lebih cocok dipakai untuk memperoleh data yang cukup luas, dari kelompok/ masyarakat yang berpopulasi besar, dan betebaran tempatnya. Biasanya pengirimannya dilakukan melalui pos kepada responden.

Oleh karena angket ini selalu berbentuk formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan (question), maka angket sering disebut “questionaire “. Tetapi tidak berarti kuesioner itu sama dengan; dengan angket Sebab kuesioner (daftar pertanyaan) itu tidak selalu responden sendiri yang mengisi, di mana kuesioner ditanyakan. secara lisan kepada responden melalui wawancara, dan yang mengisi kuesioner itu adalah interviewer berdasarkan jawaban lisan dari responden. Jadi ada kuesioner yang langsung diisi oleh responden sendiri, yang disebut “angket”, dan ada kuesioner sebagai pedoman (pegangan ) wawancara.

Kelebihan :

a. Dalam waktu singkat (serentak) dapat dapat diperoleh data yang banyak
b. Menghemat tenaga dan mungkin biaya
c. Responden dapat memilih waktu senggang untuk mengisinya, sehingga tidak terlalu terganggu bila dibandingkan dengan wawancara
d. Secara psikhologis responden tidak merasa terpaksa dan dapat menjawab lebih terbuka dan sebagainya

Kekurangan :

a. Jawaban akan lebih banyak dibumbui dengan sikap dan harapan-harapan pribadi, sehingga lebih bersifat sujektif.
b. Dengan adanya bentuk (susunan) pertanyaan yang sama untuk responden yang sangat hiterogen, maka penafsiran pertanyaan akan berbeda-beda sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan dan sebagainya dari responden.
c. Tidak dapat dilakukan untuk golongan masyarakat yang buta huruf.
d. Apabila responden tidak dapat memahami pertanyaan/ tak dapat menjawab, akan terjadi kemacetan, dan mungkin responden tidak akan menajwab seluruh angket.
e. Sangat sulit untuk memutuskan pertanyaan-pertanyaan secara tepat degan menggunakan bahasa yang jelas atau bahasa yang sederhana.

2. WAWANCARA (INTERVIEW)

Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan utuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face) Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden melalui pertemuan atau percakapan. Wawancara sebagai pembantu utama dari metode observasi. Gejala-gejala sosial yang tidak dapat terlihat atau diperoleh melalui observasi dapat digali dari wawancara.

Wawancara bukanlah sekadar angka lisan saja, sebab wawancara peneliti akan dapat:
1. Memperoleh kesan langsung dari responden.
2. Menilai kebenaran yang dikatakan oleh responden.
3. Membaca air muka (mimik) dari responden.
4. Memberikan penjelasan bila pertanyaan tidak dimengerti responden
5. Memancing jawaban bila jawaban macet.

Kelebihannya :

1. Metode ini tidak akan menemui kesulitan meskipun respondennya buta huruf sekalipun, atau pada lapisan masyarakat yang mana pun, karena alat utamanya adalah bahasa verbal. Dengan pengertian, bahwa interviewer harus dapat menyesuaikan bahasa dan cara dengan latar belakang responden.
2. Karena keluwesan dan fleksibilitasnya ini, maka metode wawancara dapat dipakai sebagai verifikasi data terhadap data yang diperoleh dengan cara observasi ataupun angket.
3. Kecuali untuk menggali informasi, sekaligus dipakai untuk mengadakan observasi terhadap perilaku pribadi.
4. Merupakan suatu teknik yang efektif untuk menggali gejala-gejala psychis, terutama yang berada di bawah sadar.
5. Dari pengalaman para peneliti, metode mi sangat cocok untuk dipergunakan di dalam pengumpulan data-data sosial.

Kekurangannya :

1. Kurang efisien, karena mremboroskan waktu, cenaga, pikiran, dan biaya.
2. Diperlukan adanya keahlian/penguasaan bahasa dari interviewer.
3. Memberi kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikan jawaban. Bahkan memberikan kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang dicatat di dalam cacatan wawancara (tidak jujur)
4. Apabila interviewer dan interviewee memnunyai perbedaan yang sangat mencolok. Sulit untuk mengadakan rapport sehinga yang diperoleh kurang akurat.
5. Jalannya interview sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitar, sehingga akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.


3. PENGAMATAN (OBSERVASI)

Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar mengenai indera, dan terjadilah penginderaan, kemudian apabila rangsangan tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan.

Contoh: Sebuah mobil di depan kita akan menyebabkan penginderaan pada kita.

Apabila mobil itu menarik perhatian kita, maka akan terjadi proses pengamatan. Pada penginderaan tidak disertai keaktifan jiwa, sedangkan pada pengamatan disertai keaktifan jiwa.

Dalam penelitian, pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan afaktivitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Jadi didalam melakukan observasi bukan hanya “mengunjungi” . “melihat”, atau “menonton” saja, tetapi disertai keaktifan jiwa atau perhatian khusus dan melakukan pencatatan-pencatatan. Ahli lain mengatakan, bahwa observasi adalah studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psychis dengan jalan “mengamati dan “mencatat”.

Kelebihan :

a. Merupakan cara pengumpulan data yang murah, mudah dan langsung guna mengadakan penelitian terhadap macam-macam gejala.
b. Tidak mengganggu, sekurang-kurangnya tidak terlalu mengganggu pada sasaran pengamatan (observee).
c. Banyak gejala-gejala psychis yang penting tidak atau sukar diperoleh denga teknik angket ataupun interview, tetapi dengan metode ini mudah diperoleh.
d. Dikemungkinan mengadakan pencatatan secara serempak kepada sasaran pengamatan yang lebih banyak.

Kekurangan :

a. Banyak peristiwa peikhis tertentu yang tidak dapat diamati, misalnya harapan, keinginan, dan masalah-masalah yang sifatnya sangat pribad, dan lain-lain.
b. Sering memerlukan waktu yang lama. sehingga membosankan, karena tingkah-laku/gejala yang dikehendaki tidak muncul-muncul.
c. Apabila sasaran pengamatan mengetahui bahwa mereka sedang diamati, mereka akan dengan sengaja menimbulkan kesan-kesan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Jadi sifatnya dibuat-buat.
d. Sering subjektifitas dari observer tidak dapat dihindari.


4. SKALA PENILAIAN (RATING SCALE)

Pencatatan data dengan alat ini dilakukan seperti chek list. Perbedaannya terletak pada kategorisasi gejala yang dicatat. Dalam rating scale tidak hanya terdapat nama objek yang diobservasi dan gejala yang akan diselidiki akan tetapi tercantum kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan atau jenjang setiap gejal tersebut.

Kelebihan :
Kelebihan skala pengukuran adalah karena merupakan alat perhitungan observasi dan merupakan alat yang bagi pengamat dapat digunakan untuk menilai individu yang sama, dengan demikian akan memperbesar reliabilitas penilaian. Penilaian yang sama dari beberapa penilai, asalkan mereka memiliki pengetahuan yang sama tentang individu yang sedang dinilai, biasanya hasilnya lebih baik daripada penilaian yang hanya dilakukan satu orang.

Kelemahan:
Kesalahan bias personal, efek halo, kecenderungan sentral, dan kesalahan logis. Karena skala penilaian telah digunakan secara luas selama bertahun-tahun, kekurangan itu cukup dikenal oleh mereka yang merancang dan menggunakannya. Namun, jenis-jenis kesalahan itu bisa saja terjadi dengan berbagai bentuk berdasarkan observasi yang dilakukan.


5. METODE TEST

Test merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti.

Keunggulan metode ini adalah :

1. Lebih akurat karena test berulang-ulang direvisi.
2. Instrument penelitian yang objektif.

Sedangkan kelemahan metode ini adalah :

1. Hanya mengukur satu aspek data.
2. Memerlukan jangka waktu yang panjang karena harus dilakukan secara berulang-ulang.
3. Hanya mengukur keadaan siswa pada saat test itu dilakukan.

Read more...

About This Blog

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP